Kamis, 25 Februari 2021

Materi Tafsir Q.S. Al. Zalzalah

 Tafsir Surat Al Zalzalah: Gempa Bumi yang Dahsyat pada Hari Kiamat



Saat bumi berguncang dan saat itu bumi mengeluarkan apa yang dikandungnya. Itulah di antara kejadian pada hari kiamat yang akan kita telaah pada tafsir surat Al Zalzalah kali ini.

Allah Ta’ala berfirman,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ (6)

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

Dalam surat ini, Allah mengabarkan apa yang terjadi pada hari kiamat di mana saat itu bumi bergoncang begitu dahsyatnya dan meruntuhkan segala yang ada di atasnya. Juga akan diterangkan bagaimanakah setiap amalan baik dan jelek akan menuai balasannya.

Bumi Bergoncang

Ibnu ‘Abbas berkata mengenai ayat,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat)“, maksudnya adalah bumi bergoncang dari bawahnya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 7: 627).

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat lainnya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).” (QS. Al Hajj: 1).

Bumi Mengeluarkan Isinya

Dalam ayat selanjutnya disebutkan,

وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا

dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” Para ulama katakan bahwa ayat tersebut berarti bumi mengeluarkan mayit yang ada di dalamnya. Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 9: 627.

Hal ini semisal dengan ayat,

وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ (3) وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ (4)

Dan apabila bumi diratakan, dan dilemparkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al Insyiqaq: 3-4).

Apa yang Sebenarnya Terjadi dengan Bumi?

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا

“Dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” Maksudnya di sini sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Katsir, bumi sebelumnya dalam keadaan tenang lalu berubah keadaannya menjadi bergoncang. Itu sudah jadi ketentuan Allah, tidak ada yang bisa menolaknya. Ketika bergoncang, keluarlah berbagai mayit dari orang terdahulu dan orang belakangan.

Bumi Berbicara …

Ketika itu bumi pun berbicara,

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5)

Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Rabbmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.

Syaikh As Sa’di rahimahullah menerangkan, “Bumi menjadi saksi bagi setiap orang yang telah beramal dahulu di atasnya. Bumi dahulu telah menjadi saksi amalan setiap hamba. Dan Allah memerintahkan untuk memberitahukan amalan-amalan manusia, perintah ini harus dijalankan (jangan didurhakai).” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Bumi Menjadi Saksi bagi Orang yang Rajin Berdzikir

Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang senantiasa berdzikir di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, semisal gunung dan tanah, akan menjadi saksi baginya di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)”. Lihat Al Wabilush Shoyyib, hal. 197.

Manusia Keluar …

Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ

Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” Maksudnya adalah pada hari kiamat, manusia dikeluarkan dari bumi dalam keadaan beraneka ragam lalu ditampakkan kebaikan dan kejelekan yang pernah mereka lakukan, kemudian mereka akan melihat balasannya.

Balasan bagi yang Berbuat Baik dan yang Berbuat Jelek

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Ini adalah balasan bagi yang berbuat baik dan jelek. Walau yang dilakukan adalah sebesar dzarrah (ukuran yang kecil atau sepele), maka itu akan dibalas. Tentu lebih pantas lagi jika ada yang beramal lebih dari itu dan akan dibalas. Allah Ta’ala berfirman,

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh.” (QS. Ali Imran: 30).

وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” (QS. Al Kahfi: 49).

Kata Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah, “Ayat ini memotivasi untuk beramal baik walau sedikit. Begitu pula menunjukkan ancaman bagi yang beramal jelek walau itu kecil.” (Taisir Al Karimir Rahman, hal. 932).

Hanya Allah yang memberi taufik untuk mengingat hari akhir dan memberi petunjuk beramal sholeh.

 

Referensi:

Taisir Al Karimir Rahman fii Tafsiril Kalamil Mannan, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, terbitan Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, tahun 1423 H.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, terbitan Dar Ibnul Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H.

Al Wabilush Shoyyib, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, terbitan Dar ‘Alamil Fawaid, cetakan ketiga, tahun 1433 H.

Di sore hari menjelang berbuka @ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 8 Ramadhan 1434 H

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Muslim.Or.Id



Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/20170-tafsir-surat-al-zalzalah-gempa-bumi-yang-dahsyat-pada-hari-kiamat.html

Kamis, 04 Februari 2021

MATERI TAFSIR SURAT AL BAYYINAH

 

JUMAT, 05 FEBRUARI 2021

Surat Al Bayyinah beserta Artinya, Tafsir dan Asbabun Nuzul

 


Surat Al Bayyinah (البينة) adalah surat ke-98 dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan, asbabun nuzul, dan tafsir Surat Al Bayyinah.

Surat ini terdiri dari 8 ayat. Nama surat ini Al Bayyinah yang berarti bukti yang nyata. Terambil dari ayat pertama. Nama lainnya adalah Lam Yakun, dari awal ayat pertama.

Ada pula nama lain yakni Surat Al Qayyimah yang terambil dari bunyi terakhir ayat ketiga. Juga dinamakan Al Bariyyah yang disebut dua kali pada ayat 6 dan 7. Bahkan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menyebut nama lain yakni Surat Al Munfakkin.

Mayoritas ulama mufassir berpendapat surat ini Madaniyah. Sebab surat ini menerangkan tentang ahlul kitab. Sementara interaksi dengan ahlul kitab baru terjadi saat di Madinah. Demikian pula metode pentahapan dalam menjelaskan hakikat sejarah dan keimanan dalam surat ini. Namun ada pula ulama yang berpendapat bahwa surat ini Makkiyah.

Artinya:
Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus. Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Asbabun Nuzul

Sebagian ulama berpendapat bahwa Surat Al Bayyinah termasuk surat makkiyah. Namun sebagian ulama lainnya berpedapat ia adalah madaniyah. Ia merupakan surat ke-101 yang turun kepada Rasulullah. Yakni turun sesudah Surat Ath Talaq dan sebelum Surat Al Hasyr.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya mencantumkan hadits terkait dengan turunnya Surat Al Bayyinah.

لَمَّا نَزَلَتْ ( لَمْ يَكُنْ) قَالَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُقْرِئَ هَذِهِ السُّورَةَ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-  يَا أُبَىُّ إِنَّ رَبِّى عَزَّ وَجَلَّ أَمَرَنِى أَنْ أُقْرِئَكَ هَذِهِ السُّورَةَ. فَبَكَى وَقَالَ ذُكِرْتُ ثَمَّةَ قَالَ نَعَمْ

Ketika turun Lam Yakun (Surat Al Bayyinah), Jibril ‘alaihis salam berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memerintahkanmu membacakan surat ini kepada Ubay bin Ka’ab.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ubay bin Ka’ab, sesungguhnya Tuhanku Azza wa Jalla memerintahkanku membacakan surat ini kepadamu.” Maka Ubay menangis sembari berkata, “Apakah namaku disebut?” Rasulullah menjawab, “Ya.” (HR. Ahmad)

Baca juga: Ayat Kursi

Tafsir Surat Al Bayyinah

Tafsir surat Al Bayyinah ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu KatsirTafsir Fi Zhilalil QuranTafsir Al AzharTafsir Al Munir dan Tafsir Al Misbah. Ia bukan tafsir baru melainkan ringkasan kompilasi dari tafsir-tafsir tersebut. Juga ditambah dengan referensi lain seperti Awwal Marrah at-Tadabbar al-Qur’an dan Khawatir Qur’aniyah.

Surat Al Bayyinah ayat 1

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Sedangkan orang-orang musyrik adalah penyembah berhala dan penyembah api. Termasuk seluruh penganut paganisme baik bangsa Arab maupun ‘ajam (non Arab).

Kata munfakkiin (منفكين) merupakan bentuk jamak pelaku dari kata infakka (إنكف) yang artinya berpisah setelah sebelumnya menyatu dengan kukuh. Maka munfakkiin juga berarti meninggalkan.

Orang-orang kafir yang menutupi kebenaran yakni ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik mengatakan bahwa mereka tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. Yakni Rasul yang dijanjikan Allah, yang sifat-sifatnya tercantum dalam kitab mereka.

Ada pula yang menafsirkan al bayyinah (bukti nyata) adalah kitab suci. Sebagaimana Taurat bagi Yahudi dan Injil bagi Nasrani.

Dua bukti nyata yang mereka sebutkan, sebenarnya telah ada pada saat itu. Yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al Qur’an Al Karim. Namun mereka mendustakannya.

Surat Al Bayyinah ayat 2

رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً

(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran),

Sebaik-baik tafsir adalah tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an. Yakni menafsirkan ayat dengan ayat lain yang menjelaskannya. Maka dengan ayat dua ini, jelaslah bahwa al bayyinah (bukti nyata) itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau membacakan Al Qur’an kepada mereka.

Ibnu Katsir menegaskan bahwa al bayyinah berdasarkan ayat ini adalah Rasulullah Muhammad dan kitab yang dibacanya yakni Al Qur’an.

Sebelum kehadiran Rasulullah, orang-orang Yahudi sering menyebut Nabi terakhir dan ciri-cirinya. Bahkan orang-orang Yahudi mengancam akan memerangi orang-orang Yatsrib dari suku Aus dan Khazraj jika Nabi ini telah turun. Namun saat Rasulullah telah diutus dan ciri-cirinya sama dengan apa yang ada dalam Taurat, mereka justru mendustakannya.

Sebaliknya, enam orang suku Aus yang bertemu Rasulullah pada musim Haji tahun 11 kenabian langsung beriman kepada beliau. Tahun berikutnya, 12 perwakilan suku Aus dan Khazraj berbaiat kepada beliau dalam Baiat Aqabah pertama.

Kata yatluu (يتلو) yang artinya membaca, digunakan Al Qur’an untuk bacaan yang sifatnya benar dan haq. Kata ini sering kita dapati misalnya dalam Surat Ali Imran ayat 164 dan Surat Al Jumu’ah ayat 2. Ia mengisyaratkan bahwa apa yang Rasulullah baca adalah benar dan haq. Dari kata ini pula kemudian kita akrab dengan tilawah.

Surat Al Bayyinah ayat 3

فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ

di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yang lurus.

Kata kutub (كتب) berasal dari kataba (كتب) yang artinya menetapkan. Di dalam Al Qur’an, banyak ketetapan. Misalnya ketetapan tentang puasa: kutiba ‘alaikumush shiyamKutub juga merupakan bentuk jamak dari kitab (كتاب) yang artinya buku. Al Qur’an membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Di dalam Al Qur’an ada kandungan kitab-kitab sebelumnya.

Kata Qayyimah (قيمة) berasal dari kata qawama (قوم) yang artinya berdiri tegak lurus. Banyak makna qayyimah namun semuanya bermuara pada kesempurnaan atau sempurna memenuhi seluruh kriteria yang dibutuhkan.

Dengan demikian, kutubun qayyimah adalah kitab-kitab suci sebelumnya yang otentik, yang belum diubah.

Al Qur’an sendiri merupakan kitab yang qayyimah, yang sempurna dan lurus tanpa ada kebengkokan di dalamnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; (QS. Al Kahfi: 1)

Surat Al Bayyinah ayat 4

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ

Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.

Setelah datangnya Rasulullah yang merupakan al bayyinah sebagaimana yang mereka ketahui ciri-ciri sebelumnya, mereka pun terpecah. Ada di antara mereka yang beriman, ada pula yang kafir.

Sayyid Qutb menjelaskan panjang lebar sejarah ahlul kitab yang suka berselisih setelah turunnya Nabi yang mereka harapkan. Saat Nabi Isa diutus, mereka mengaku pengikut Nabi Musa dan tidak mau beriman kepada Nabi Isa. Setelah Rasulullah Muhammad diutus, mereka juga berbuat demikian.

Berpecahnya ahlul kitab ini perihalnya sama sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (QS. Ali Imran: 105)

Surat Al Bayyinah ayat 5

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

Orang-orang kafir termasuk ahli kitab itu berselisih padahal mereka tidak diperintahkan begitu. Yang Allah perintahkan adalah bertauhid, memurnikan ibadah kepada-Nya. Kemudian mendirikan sholat dan menunaikan zakat.

Ayat ini menjelaskan bahwa sesungguhnya agama-agama dari Allah itu pada hakikatnya adalah satu. Dan inilah kaidahnya; tauhid dan ibadah.

“Agama itu pada asalnya satu dan kaidah-kaidahnya sederhana dan jelas. Kaidah-kaidahnya tidak menyeru kepada perpecahan dan perselisihan mengenai akidah dan tabiatnya yang lapang dan mudah itu,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.

Kata mukhlishin (مخلصين) berasal dari kata khalasha (خلص) yang artinya murni setelah sebelumnya diliputi atau disentuh kekeruhan. Dari sini, ikhlas berarti memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Tafsir Al Munir mengatakan, ikhlas beribadah kepada Allah ini adalah tujuan pokok dari agama.

Kata hunafaa’ (حنفاء) merupakan bentuk jamak dari haniif (حنيف) yang artinya lurus atau cenderung kepada sesuatu. Islam adalah agama yang hanif, lurus dan pertengahan. Tidak condong kepada materialisme, tidak juga terlalu condong kepada spiritual yang memisahkan urusan dunia. Ia juga agama yang qayyimah, lurus dan tidak tidak bengkok.

Surat Al Bayyinah ayat 6

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Orang-orang kafir, baik mereka ahlul kitab maupun musyrik, di akhirat nanti akan masuk neraka jahannam. Mereka kekal abadi di dalamnya. Ahlul kitab menjadi kafir karena yang Yahudi mengatakan Uzair anak Allah dan yang Nasrani mengatakan Isa anak Allah dengan trinitasnya.

Kata al barriyyah (البرية) berasal dari kata bara’ (برء) yang artinya mencipta. Dengan demikian, al barriyah artinya adalah ciptaan atau makhluk. Ada pula yang berpendapat, kata itu berasal dari al bara (البرى) yang artinya tanah. Makna ini melengkapi pengertian sebelumnya yakni al bariyyah adalah makhluk yang diciptakan dari tanah.

Orang yang kafir, mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Bahkan lebih buruk dari binatang.

Surat Al Bayyinah ayat 7

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.

Ini kebalikan dari ayat sebelumnya. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih adalah sebaik-baik makhluk. Bahkan, kata Abu Hurairah, lebih utama daripada malaikat.

Imam Syafi’i dan ulama lainnya menjadikan ayat ini sebagai salah satu dalil bahwa iman itu adalah keyakinan, perkataan dan perbuatan. Allah menyebutkan secara khusus amal shalih mengiringi iman. Dan ini juga terdapat pada banyak ayat lainnya.

Surat Al Bayyinah ayat 8

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.

Ini balasan bagi orang yang beriman dan beramal shalih. Mereka akan masuk surga dan kekal abadi di dalamnya. “Yang tiada putus-putusnya, tiada habis-habisnya dan tiada selesai-selesainya,” kata Ibnu Katsir.

Tak hanya itu. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi derajatnya dari kenikmatan tersebut. Yakni ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini semua diberikan kepada orang yang takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Dalam ayat ini dipakai istilah khasyah (خشية) yang lebih tinggi daripada khauf (خوف). Yaitu rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahagung sehingga menghindari seluruh apa yang Dia larang.

Baca juga: Isi Kandungan Surat Al Zalzalah

Penutup Tafsir Surat Al Bayyinah

Sayyid Qutb menyebut surat ini memaparkan hakikat sejarah dan keimanan dengan metode pentahapan yang memperkuat bahwa surat ini Madaniyah.

Kakikat pertama, pengutusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan kebutuhan mendesak untuk meluruskan persepsi orang kafir dan mengubah perselisihan mereka.

Kedua, ahli kitab berselisih bukan karena mereka tidak tahu. Mereka berselisih justru setelah datangnya pengetahuan dan keterangan yang jelas kepada mereka.

Ketiga, agama itu pada asalnya satu, kaidah-kaidahnya sederhana dan jelas. Kaidah-kaidahnya tidak menyeru kepada perpecahan dan perselisihan mengenai akidah dan tabiat tersebut.

Keempat, orang-orang yang kafir setelah datang keterangan kepada mereka, mereka itulah seburuk-buruk makhluk dan tempatnya adalah abadi di neraka. Sedangkan orang yang beriman dan beramal shalih, mereka adalah sebaik-baik makhluk dan tempat kembalinya adalah surga.

Demikian Surat Al Bayyinah mulai dari terjemahan, asbabun nuzul hingga tafsirnya. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq-Nya sehingga kita tetap dalam keimanan dan beramal shalih. Menjadi sebaik-baik makhluk yang Allah ridhai dan Allah masukkan ke dalam surga-Nya yang abadi. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]







TAFSIR SURAT AL FIIL

 MATERI DARING TAFSIR, JUMAT, 30 APRIL 2021 Surat Al Fil (الفيل) adalah surat ke-105 dalam Al Quran. Berikut ini terjemahan, asbabun nuzul, ...